Ubisoft resmi menutup sementara server Rainbow Six Siege beserta sistem marketplace di seluruh platform. Keputusan ini diambil menyusul munculnya sebuah “insiden” besar yang diduga kuat berkaitan dengan serangan hacker dan berdampak langsung pada akun pemain serta ekonomi di dalam game.
Langkah penutupan ini diumumkan setelah komunitas melaporkan berbagai kejanggalan serius. Sejumlah pemain mengaku akun mereka tiba-tiba dipenuhi item langka, termasuk skin eksklusif milik developer yang seharusnya tidak bisa diakses publik. Tidak hanya itu, ada pula laporan pemain menerima miliaran kredit in-game dengan nilai setara puluhan ribu dolar secara tiba-tiba.
Akun Bermasalah hingga Ban Mendadak
Di tengah melimpahnya item ilegal tersebut, sebagian pemain justru mengalami nasib sebaliknya. Beberapa akun dilaporkan terkena ban mendadak tanpa penjelasan jelas. Bahkan, sempat muncul pesan aneh berskala server yang berisi lirik lagu serta pernyataan kontroversial, memperkuat dugaan bahwa sistem Rainbow Six Siege sedang dikompromikan.
Situasi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan komunitas, terutama terkait keamanan data akun dan keadilan sistem ekonomi dalam game kompetitif tersebut.
Baca Juga: Newzoo: Pendapatan Game Global 2025 Diprediksi Naik 7,5% By Rajabotak
Ubisoft Sebut “Insiden”, Bukan Peretasan
Melalui pernyataan resminya di media sosial, Ubisoft menyebut kejadian ini sebagai sebuah “insiden” dan menegaskan bahwa tim internal tengah melakukan investigasi menyeluruh. Namun, menariknya, Ubisoft tidak secara eksplisit menggunakan istilah “peretasan”.
Pilihan kata yang terkesan diplomatis ini justru memicu perdebatan di kalangan pemain, mengingat skala gangguan yang terjadi dinilai terlalu besar untuk disebut sebagai gangguan teknis biasa. Meski demikian, Ubisoft akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh layanan Rainbow Six Siege, termasuk marketplace, sebagai langkah pencegahan.Permainan Terbaik Dan Tepercaya Dan Kini Menjadi Tempat Ladang Uang Main Cuma Di Rajabotak
Penutupan Server di Waktu yang Tidak Ideal
Hingga saat ini, Ubisoft belum memberikan kepastian kapan server Rainbow Six Siege akan kembali aktif, maupun siapa pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun, melihat potensi kerusakan pada sistem ekonomi dan integritas akun pemain, penutupan sementara dianggap sebagai opsi paling aman untuk mencegah dampak lanjutan.
Situasi ini terasa semakin pahit karena terjadi di momen liburan akhir tahun, periode yang biasanya ramai dengan kembalinya pemain lama maupun baru ke Rainbow Six Siege, baik di ranah kasual maupun kompetitif.
Ancaman Hacker di Industri Game 2025
Insiden yang menimpa Ubisoft ini menambah daftar panjang serangan siber di industri game sepanjang 2025. Sebelumnya, sejumlah judul dan perusahaan besar seperti ARC Raiders, Nintendo, hingga Stellar Blade juga dilaporkan sempat menjadi target serangan hacker.
Kini, perhatian tertuju pada langkah lanjutan Ubisoft dalam memulihkan keamanan sistem serta mengembalikan kepercayaan komunitas. Bagi pemain Rainbow Six Siege, satu hal yang pasti: keamanan akun dan ekosistem game menjadi taruhan utama dari insiden besar ini.
